
Pernahkah kita melewati satu hari tanpa membaca Al-Qur’an? Tanpa menyentuh mushaf, tanpa mendengar lantunan ayat-ayatnya, bahkan tanpa mengingatnya sama sekali. Sekilas mungkin terasa biasa saja. Namun tahukah kita, ada banyak hal besar yang sebenarnya hilang dari hidup kita saat jauh dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tetapi cahaya, petunjuk, dan sumber ketenangan. Ketika kita meninggalkannya, secara tidak sadar kita juga kehilangan keberkahan dalam hidup.
1. Hilangnya Ketenangan Hati
Salah satu dampak paling terasa ketika jauh dari Al-Qur’an adalah hati menjadi gelisah.
Allah ﷻ berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma’innul-qulûb
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”.
Membaca Al-Qur’an termasuk dzikir kepada Allah. Tanpa itu, hati mudah dipenuhi kegelisahan, kecemasan, dan kekosongan. manfaatkan hari per hari dengan membaca al qur an.
2. Kehilangan Pahala yang Besar
Setiap huruf Al-Qur’an bernilai pahala. Maka satu hari tanpa membacanya berarti kehilangan pahala yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat…”
(HR. Tirmidzi)
Bayangkan berapa banyak pahala yang hilang hanya karena kita melewatkan sehari tanpa Al-Qur’an.
3. Jauh dari Syafaat di Hari Kiamat
Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi orang yang dekat dengannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)
Jika kita jarang membaca Al-Qur’an, bagaimana kita berharap mendapatkan syafaatnya?
baca juga : https://tembungcity.com/subhanallah-inilah-keajaiban-al-quran-yang-jarang-diketahui/
4. Hati Menjadi Keras
Jauh dari Al-Qur’an dapat membuat hati menjadi keras dan sulit menerima kebenaran.
Allah ﷻ berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٧٤t
summa qasat qulûbukum mim ba‘di dzâlika fa hiya kal-ḫijârati au asyaddu qaswah, wa inna minal-ḫijârati lamâ yatafajjaru min-hul-an-hâr, wa inna min-hâ lamâ yasysyaqqaqu fa yakhruju min-hul-mâ’, wa inna min-hâ lamâ yahbithu min khasy-yatillâh, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta‘malûn
“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”.
(QS. Al-Baqarah: 74)
Al-Qur’an berfungsi melembutkan hati. Tanpanya, hati menjadi kering dari iman.
Ayat-ayat berikut menerangkan respons kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad tentang kisah kakek moyangnya. Kemudian setelah kamu, kaum Yahudi, mendengar kisah dan mengetahui sikap mereka itu, hatimu menjadi keras, sehingga menjadi seperti batu, atau bahkan lebih keras dari batu.
Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa mereka tetap tidak mau beriman walaupun telah mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah, seperti yang disebutkan pada ayat sebelumnya, bahkan mereka justru bertambah ingkar kepada Tuhan. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang airnya memancar daripadanya, sementara dari celah hatimu tidak ada setitik cahaya ketakwaan yang memancar.
Di antara batu itu ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, tetapi hatimu tertutup rapat sehingga tidak ada cahaya Ilahi yang terserap. Dan ada pula di antara batu itu yang meluncur jatuh karena tunduk dan takut kepada azab Allah, sedangkan hatimu semakin menunjukkan kesombongan yang tampak dari sikap dan tingkah lakumu.
Bila kamu tidak mengubah sikap dan terus dalam keangkuhan, ketahuilah bahwa Allah tidaklah lengah atau lalai terhadap apa yang kamu kerjakan. Allah pasti mengetahui semua yang kamu perbuat, karena Dia selalu mengawasimu setiap saat.
5. Kehilangan Petunjuk Hidup
Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang membimbing manusia ke jalan yang benar.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ٩
nna hâdzal-qur’âna yahdî lillatî hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu’minînalladzîna ya‘malûnash-shâliḫâti anna lahum ajrang kabîrâ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar”.
(QS. Al-Isra: 9)
Tanpa Al-Qur’an, manusia mudah tersesat dalam keputusan dan arah hidupnya.
6. Kehilangan Keberkahan Hidup
Al-Qur’an membawa keberkahan bagi siapa saja yang membacanya dan mengamalkannya.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi…”
(QS. Al-An’am: 92)
Satu hari tanpa Al-Qur’an berarti satu hari tanpa keberkahan yang seharusnya bisa kita dapatkan.
7. Dijauhkan dari Kemuliaan di Sisi Allah
Orang yang dekat dengan Al-Qur’an memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain dengannya.”
(HR. Muslim)
Meninggalkan Al-Qur’an berarti menjauh dari kemuliaan tersebut.
Penutup
Satu hari tanpa Al-Qur’an bukanlah hal sepele. Ia adalah hari di mana kita kehilangan ketenangan, pahala, petunjuk, dan keberkahan.
Mulailah dari hal kecil:
- Membaca beberapa ayat setiap hari
- Mendengarkan tilawah
- Memahami maknanya
- Mengamalkannya dalam kehidupan
Jangan biarkan hari-hari kita kosong dari Al-Qur’an. Karena sesungguhnya, semakin dekat kita dengan Al-Qur’an, semakin dekat pula kita dengan Allah.
semoga bermanfaat..
2 thoughts on “Satu Hari Tanpa Al-Qur’an, Apa yang Hilang?”