
Do’a Qunut adalah doa yang dibaca dalam shalat pada posisi tertentu, biasanya saat berdiri (i’tidal atau sebelum rukuk), dengan tujuan memohon kebaikan dan perlindungan kepada Allah.
lalu bagimana pendapat 4 imam mazhab tentang hal ini.. berikut akan kita bahas bagaimana pendapat masing2 mazhab tentang hal ini . bagaimana do’a qunut itu :
Doa qunut shubuh adalah sebagai berikut:
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allahummahdini fî man hadait, wa ‘âfini fî man ‘âfait, wa tawallanî fî man tawallait, wa bâriklî fî mâ a‘thait, wa qinî syarra mâ qadhait, fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik, wa innahû lâ yazillu man wâlait, wa lâ ya‘izzu man ‘âdait, tabârakta rabbanâ wa ta‘âlait, fa lakal hamdu a’lâ mâ qadhait, wa astagfiruka wa atûbu ilaik, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya:
Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkahan kepadaku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan aku dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertobat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
1. Mazhab Hanafi tentang Do’a Qunut
Pendapat:
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa qunut hanya dibaca pada shalat witir, bukan pada shalat Subuh.
Dalil:
عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ
“Dari Hasan bin Ali, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku baca dalam qunut witir…”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Kesimpulan Hanafi:
Qunut Subuh tidak disyariatkan, kecuali dalam kondisi tertentu (nazilah/bencana).
baca juga : https://tembungcity.com/al-quran-sebagai-cahaya-kehidupan/
2. Mazhab Maliki tentang Do’a Qunut
Pendapat:
Mazhab Maliki membolehkan qunut pada shalat Subuh, tetapi dilakukan sebelum rukuk dan tidak terus-menerus (lebih kepada kebiasaan tertentu).
Dalil:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ
“Dari Anas, bahwa Nabi ﷺ berqunut selama sebulan, mendoakan keburukan atas Ri’l dan Dzakwan.”
(HR. Bukhari, Muslim)
Kesimpulan Maliki:
Qunut Subuh boleh dilakukan, namun tidak dianggap sunnah yang terus-menerus.
3. Mazhab Syafi’i tentang Do’a Qunut
Pendapat:
Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa qunut disunnahkan secara rutin pada shalat Subuh setelah rukuk (i’tidal).
Dalil:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ senantiasa berqunut dalam shalat Subuh hingga beliau wafat.”
(HR. Ahmad, Baihaqi)
Kesimpulan Syafi’i:
Qunut Subuh adalah sunnah muakkadah dan dilakukan secara terus-menerus.
4. Mazhab Hanbali tentang Do’a Qunut
Pendapat:
Mazhab Hanbali berpendapat bahwa qunut tidak dilakukan dalam shalat Subuh secara rutin, tetapi hanya dilakukan saat qunut nazilah (musibah atau bencana).
Dalil:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَنَتَ شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ
“Dari Anas, bahwa Nabi ﷺ berqunut selama sebulan kemudian meninggalkannya.”
(HR. Bukhari, Muslim)
Kesimpulan Hanbali:
Qunut Subuh tidak disunnahkan secara rutin, kecuali saat terjadi musibah.
baca juga : https://tembungcity.com/peran-al-quran-dalam-menjawab-tantangan-zaman-modern/
Ringkasan Perbedaan
| Mazhab | Qunut Subuh | Qunut Witir |
|---|---|---|
| Hanafi | Tidak | Ya |
| Maliki | Boleh (tidak rutin) | Ya |
| Syafi’i | Sunnah rutin | Ya |
| Hanbali | Tidak (kecuali nazilah) | Ya |
Hikmah Perbedaan
Perbedaan pendapat ini menunjukkan keluasan rahmat dalam Islam. Semua mazhab memiliki dasar dalil masing-masing yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ
“Perbedaan di antara umatku adalah rahmat.”
(Diriwayatkan dalam beberapa kitab, meskipun statusnya diperselisihkan)
Penutup
Qunut merupakan bagian dari ibadah yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk menghormati perbedaan dan mengikuti mazhab yang kita yakini.
Yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dalam shalat dan keikhlasan dalam berdoa kepada Allah ﷻ.
Semoga Allah menerima ibadah kita semua 🤲
2 thoughts on “Qunut Menurut 4 Mazhab”