
Sering kita mendengar perkataan metode hisab hakiki wujudul hilal dan KHGT dimasyarakat yang digunakan Muhammadiyah untuk menentukan 1 Ramadhan dan Syawal sebenarnya apa sih dua hal itu dan apa perbedaan antara metode hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal dan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dalam menetapkan awal Ramadhan dan Syawal 1447 H. Selain itu, penting bagi kita untuk mengetahui kedua metode ini untuk menambah ilmu kita.
Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, metode yang digunakan untuk menentukan awal Ramadhan, Syawwal, dan Zulhijjah adalah hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal. Menurut kriteria ini, bulan Qamariah baru dimulai jika pada hari ke-29 bulan hijriah yang sedang berjalan, terpenuhi tiga syarat berikut saat matahari terbenam:
1.Telah terjadi ijtimak ( peristiwa ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis lurus, sehingga Bulan berada di antara Bumi dan Matahari ),
2. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam,
3. Pada saat matahari terbenam, bulan (piringan atasnya) masih berada di atas ufuk.
Menurut Dr. H. Firdaus, anggota Tim Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, menjelaskan bahwa jika salah satu dari ketiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari, dan bulan baru dimulai dua hari kemudian.
Mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang telah lama disosialisasikan, Dr. H.Firdaus menyatakan bahwa secara resmi KHGT belum digunakan karena kalender sebaiknya dimulai dari awal tahun. Oleh karena itu, sesuai dengan maklumat PP Muhammadiyah yang baru dirilis, kriteria yang digunakan hingga akhir tahun hijriah ini masih mengacu pada wujudul hilal.
Terkait perbedaan jumlah hari puasa Ramadhan antara wujudul hilal (30 hari) dan KHGT (29 hari), Buya Firdaus menegaskan bahwa wujudul hilal merupakan ijtihad syar’i yang sah dan memiliki dasar kuat dari Al-Quran, hadits, serta as-sunnah al-maqbulah. “Kriteria wujudul hilal tidak bertentangan dengan syarat kalender, di mana umur bulan hijriah minimal 29 hari dan maksimal 30 hari,” jelas dosen Ilmu Falak Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat tersebut.
BACA JUGA : https://tembungcity.com/30-ucapan-selamat-idulfitri-1447-h-yang-penuh-makna/
Ia juga menambahkan bahwa KHGT merupakan produk ijtihad syar’i yang sah. “Keduanya sama-sama menggunakan metode hisab hakiki,” ujarnya. Perbedaan utama antara keduanya adalah wujudul hilal yang berorientasi nasional atau berdasarkan konsep wilayatul hukmi, sementara KHGT berorientasi global atau berdasarkan konsep ittihad al-matali.
Dalam konteks penentuan awal bulan, “Kaidah ushul fiqih menyatakan bahwa hukum asal sesuatu adalah berlakunya kondisi sebelum terjadinya perubahan,”ini bermakna bahwa suatu ketentuan tetap berlaku sampai ada ketentuan baru yang mengubahnya. “Ketentuan baru yang akan mengubah peralihan dari metode wujudul hilal ke KHGT adalah berdasarkan Tanfidz atau penetapan oleh PP Muhammadiyah, untuk menentukan awal 1 Ramadhan dan satu syawal 1447 H muhammadiyah sudah menggunakan Metode KHGT.