
Kegiatan “Buka Bersama” atau Bukber sudah menjadi tradisi melekat di masyarakat kita. Momen ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun, ada sebuah fenomena miris yang sering terjadi: terlalu asyik mengobrol dan menyantap hidangan hingga waktu Maghrib terlewati begitu saja.
Padahal, inti dari berpuasa adalah ketaatan. Mengabaikan shalat Maghrib demi kelancaran acara buka bersama bukan hanya sebuah kekhilafan, tapi memiliki mudharat (dampak buruk) yang besar. Berikut adalah 5 mudharat utama yang perlu kita renungkan:
1. Gugurnya Esensi Takwa dalam Berpuasa
Tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang bertaqwa (la’allakum tattaquun). Taqwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sangat kontradiktif jika kita sanggup menahan lapar belasan jam (perintah puasa), namun dengan mudahnya meninggalkan tiang agama (perintah shalat). Tanpa shalat, puasa kita kehilangan “ruh” dan esensinya.
2. Terjebak dalam Dosa Besar yang Disengaja
Dalam syariat Islam, meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja adalah salah satu dosa besar. Menunda-nunda shalat karena alasan makanan atau obrolan adalah bentuk meremehkan panggilan Allah. Bayangkan, kita sedang merayakan kemenangan menahan nafsu makan, tapi di saat yang sama kita kalah oleh nafsu untuk terus berbincang dan bersantai.
baca juga : https://tembungcity.com/iktikaf-menyepi-bersama-allah-di-penghujung-ramadhan/
3. Hilangnya Keberkahan di Waktu Mustajab
Waktu berbuka puasa adalah salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Namun, keberkahan itu bisa sirna jika kita justru bermaksiat dengan meninggalkan kewajiban. Alih-alih mendapatkan pahala yang berlipat ganda, kita justru menutup hari puasa kita dengan catatan kelalaian yang fatal.
4. Waktu Maghrib yang Teramat Singkat
Berbeda dengan shalat Isya atau Dzuhur yang waktunya relatif panjang, Maghrib memiliki durasi yang sangat sempit (fautul waqti). Sekali kita terlena dengan hidangan pembuka dan update cerita bersama teman, waktu tersebut akan habis dalam sekejap. Mengganti shalat yang sengaja ditinggalkan (qadha) tidak akan pernah menyamai keutamaan shalat tepat pada waktunya.
5. Menjadi Teladan yang Buruk (Social Pressure)
Saat kita berada dalam lingkaran pertemanan dan tidak ada yang berinisiatif mengajak shalat, kita sedang membangun budaya “permisif” terhadap dosa. Sebaliknya, jika kita berani memutus obrolan untuk menuju mushala, kita sedang melakukan dakwah. Membiarkan waktu Maghrib lewat begitu saja saat Bukber hanya akan menormalisasi kelalaian ibadah di mata orang lain.
Kesimpulan
Silaturahmi melalui buka bersama adalah hal yang baik, namun jangan sampai “kebaikan” tersebut merusak “kewajiban”. Alangkah indahnya jika agenda Bukber disusun dengan menjeda acara saat adzan berkumandang, mendahulukan shalat, baru kemudian melanjutkan makan besar dan berbincang.