
Dalam membaca Al-Qur’an, kita mengenal berbagai hukum tajwid yang bertujuan menjaga keindahan dan keaslian bacaan. Salah satu di antaranya adalah saktah, yaitu berhenti sejenak tanpa mengambil napas. Namun, muncul pertanyaan penting: mengapa ada ayat dalam Al-Qur’an yang harus disaktahkan?
Artikel ini akan membahas alasan, hikmah, serta pentingnya saktah dalam membaca Al-Qur’an.
Apa Itu Saktah?
Saktah adalah jeda singkat dalam bacaan Al-Qur’an tanpa bernapas, kemudian dilanjutkan kembali. Jeda ini sangat singkat, tidak seperti waqaf (berhenti) yang biasanya diikuti dengan mengambil napas.
Saktah termasuk bagian dari ilmu tajwid yang diajarkan secara turun-temurun dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.
baca juga : https://tembungcity.com/doa-saat-zakat-fitrah/
Mengapa Ayat Disaktahkan?
Berikut beberapa alasan utama mengapa saktah diterapkan dalam bacaan Al-Qur’an:
1. Menjaga Keaslian Bacaan dari Rasulullah ﷺ
Saktah bukanlah aturan yang dibuat-buat, melainkan bagian dari cara membaca Al-Qur’an yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Para ulama qira’at meriwayatkan bahwa beliau membaca pada tempat tertentu dengan jeda singkat.
Dengan mengikuti saktah, kita menjaga bacaan tetap sesuai dengan sunnah.
2. Menghindari Perubahan Makna
Salah satu fungsi utama saktah adalah mencegah kesalahpahaman makna.
Tanpa saktah, dua kata bisa terbaca seolah-olah menyatu dan menghasilkan arti yang berbeda. Dengan jeda singkat, makna setiap kata tetap jelas dan tidak rancu.
3. Membantu Memahami Struktur Ayat
Saktah membantu pembaca memahami bahwa ada pemisahan makna dalam satu rangkaian ayat, meskipun tidak berhenti penuh.
Ini sangat penting dalam ayat-ayat yang memiliki susunan bahasa yang halus dan kompleks.
4. Menambah Keindahan dan Irama Bacaan
Al-Qur’an memiliki keindahan tersendiri dalam bacaannya. Saktah memberikan ritme alami yang membuat bacaan lebih tartil, tenang, dan menyentuh hati.
Hal ini sejalan dengan perintah Allah:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan dan benar).”
(QS. Al-Muzzammil: 4)baca Juga : https://tembungcity.com/bolehkah-menukar-uang-baru-dengan-biaya-admin/
5. Sebagai Bagian dari Ilmu Tajwid dan Qira’at
Saktah termasuk dalam cabang ilmu tajwid dan qira’at yang memiliki aturan baku. Tidak semua tempat bisa disaktahkan, hanya pada posisi tertentu yang telah ditetapkan dalam riwayat bacaan, seperti riwayat Hafs.
Contoh Bacaan Saktah dalam Ayat Al-Qur’an
Menurut Imam Hafs, bacaan saktah hanya terdapat pada 4 ayat Al-Qur’an. Apa saja? Berikut rinciannya seperti dinukil dari sumber yang sama.
1. Surat Al Kahfi Ayat 1-2
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ (١) قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (٢)
Arab latin: al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā;. qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā
Artinya: “(1) Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya. (2) Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik (2),”
Adanya saktah pada akhir ayat 1 surat Al Kahfi agar tidak ada pembiasan makna karena khawatir kata (قَيِّمًا) dianggap sebagai shifat atau naat untuk kata (عِوَجًا). Kata (قَيِّمًا) artinya lurus, sedangkan (عِوَجًا) artinya kebengkokan.
2. Surat Yasin Ayat 52
قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ
Arab latin: Qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn
Artinya: Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya),”
Saktah pada surat Yasin ayat 52 bertujuan untuk menjelaskan perkataan orang-orang kafir yang berhenti di kata (مَرْقَدِنَا) dan dilanjutkan dengan perkataan malaikat yang dimulai dari kata (هَذَا). Dengan demikian, kata (هَذَا) bukan sifat dari kata (مَرْقَدِنَا), melainkan jadi mubtada’.
3. Surat Al Qiyamah Ayat 27
وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ
Arab latin: Wa qīla man rāq
Artinya: Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”
Penerapan saktah pada ayat tersebut dimaksudkan menjaga izhhar-nya nun mati. Jika nun mati diidghomkan ke huruf ro’, khawatir akan dianggap menjadi kata (مَرَّاق) yang sesuai dengan wazan (فَعَّالٌ).
4. Surat Al Muthaffifin Ayat 14
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Arab latin: Kallā bal rāna ‘alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn
Artinya: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.
Pada ayat ini, saktah tersebut bertujuan agar makna dari bacaan tidak menjadi salah arti. Apabila tidak ada saktah, maka lam di-idghamkan ke ro’ karena termasuk idghom mutaqoribain. Orang yang tidak tahu tulisannya akan mengira (بَلْ) dan (رَانَ) adalah satu kata menjadi (بَرَّانَ).
sumber :
https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6751052/saktah-pengertian-cara-membaca-dan-contoh-ayatnya-dalam-al-quran