
Sering kita menerima pertanyaan baik di kalangan pribadi maupun kalangan umum tentang cara beriman kepada Allah SWT ? Jika pertanyaan itu ditujukan kepadamu Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya Allah itu Dzat yang esa, yaitu yang sendiri pada sifat-sifat dan dzat-Nya tidak ada yang menyekutui-Nya, Dzat yang maha hidup dengan kehidupan yang qadim yang ada pada dzat-Nya bukan dengan nyawa, Dzat yang maha tahu dengan pengetahuan yang qadim yang ada pada dzatNya, yang mengetahui benar terhadap yang wajib, jaiz dan yang mustahil, Dzat yang maha kuasa dengan kekuasaan yang qadim yang ada pada dzat-Nya, bukan dengan penelitian juga bukan dengan perantara.
Di Zaman yang modren sekarang ini untuk mengetahui sesuatu itu sangatlah mudah, namun setelah kita mengetahui dan memahaminya ada hal yang sangat sulit untuk dilakukan yaitu melaksanakannya.
firman Allah swt : “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka
sembahlah aku”.
Menurut pendapat yang shahih, madlulul al-fadh (yang ditunjukkan oleh lafadh-lafadh) yang kita baca semuanya berhubungan dengan kalam Allah yang qadim, seperti yang telah dikatakan oleh Ibnu Qasim dan mufakat sekelompok Ulama’ Mutaakhkhirin.
baca Juga : https://tembungcity.com/apa-yang-berhubungan-dengan-hakikat-iman/
Cara Beriman Kepada Allah SWT yang lain ialah dengan Mengimani A-Qur’an, lalu apakah Al-Quran, apakah ia qadim atau hadits ? Maka sebaiknya kamu meminta penjelasan terlebih dahulu kepada orang yang bertanya, apabila ia berkata padamu, bahwa yang saya maksud adalah yang ada pada dzat Allah yang mana apa yang ada pada kita semua telah menunjukkannya.
Maka katakanlah, ia qadim disebabkan sifat qidamnya Dzat, karena qidam adalah termasuk dari sebagian sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Dan apabila ia berkata, bahwa yang saya maksud adalah sesuatu yang berada di antara dua buah pinggir, yaitu yang berupa tulisan tulisan, maka katakanlah padanya, bahwa ia hadits yang disebabkan oleh sifat hudutsnya
Demikian juga tentang lafadh-lafadh, apabila orang yang bertanya padamu, bahwa yang saya maksud adalah ditinjau dari segi madlul (yang ditunjukkan), maka katakanlah, bahwasanya sesuatu (lafadh) yang menunjukkan terhadap dzat Allah, suatu sifat dari beberapa sifat-Nya atau suatu hikayat milik-Nya adalah qadim.
Dan sesuatu yang menunjukkan terhadap benda-benda yang baru (hawadits) atau sifat-sifatnya, misalnya dzat-dzat makhluk atau sifat-sifatnya, seperti kebodohan dan pengetahuan kita, semua itu adalah hadits (baru), begitu juga dengan hikayat-hikayat hawadits.
Ketahuilah bahwasannya Allah memberikan rizki kepada semua makhluk-makhluk-Nya, dan diantara beberapa sebab dilapangkannya rizki adalah dengan mendirikan sholat.
Firman Allah : Surat Thaha Ayat 132
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.